Our site is moved here
Blog Mbah Dinan
Tampilkan postingan dengan label estetika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label estetika. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2018

Persepsi Sangka-Rasa Musikal

Memahami Sangka-Rasa

Ketika kamu mendengar musik mengalun dengan melodi yang menyayat, kebiasaan banyak orang menyebutkan “merasa” sedih karena biasanya pemikiran mempersepsi secara langsung tanpa menelaah rasa itu sendiri. Padahal hal pertama yang ditangkap adalah bunyi, jadi kuping akan menangkap bunyi dan mulailah pemikiran memberikan “sangka” terhadap bunyi tersebut. Pemikiran mempersepsi bunyi yang mengalun dan menyayat lalu menyimpulkannya di alam sangka. Kalau kamu mengatakan itu adalah rasa, maka saya katakana bahwa rasa itu relatif, karena bisa saja “bentuk musik” itu dipersepsi bukan musik sedih. Itu karena bentuk musik seperti itu digolongkan dalam musik sedih oleh pikiran kamu sendiri, namun belum tentu oleh orang lain. Bahkan ada beberapa orang mendengarkan dan menelaah bunyi secara mendalam (sangka) dulu baru dia menyimpulkan kalau itu mewakili suatu kesedihan atau lainnya. Jadi penyimpulan dari persepsi terhadap musik yang didengar itu lebih tepat dikatakan sangka. Sampai disini kita belum mencapai rasa.

Setelah kamu mendengar musik lalu ada sangka mengenai bentuk musik tersebut. Selanjutnya persepsi otak mengirimkan sinyal kepada hati untuk dirasakan. Ketika hati merasakan barulah ada sedih, gembira, atau marah. Tentunya persepsi hati juga berbeda dari masing-masing orang. Hatilah yang menyimpulkan masalah rasa, karena otak tidak mampu mempersepsi rasa. Dia hanya menyimpulkan kembali dari persepsi hati, sehingga keluarlah yang namanya sedih, gembira, atau marah yang biasanya disebut ekspresi mendasar dari musik. Inilah awal yang dipersepsi pendengar, makanya ada perbedaan sangka dan rasa dalam menafsirkannya.

Sangka membuat persepsi terhadap musik yang didengar, lalu mengirimkan sinyal kepada hati untuk dipersepsi. Pada hati mempersepsi, secapat itu pula hati langsung mengirim sinyal balik kepada otak. Layaknya seperti pecakapan “pikiran” dan “rasa”. Saya katakana pikiran karena pikiran ada dalam otak, dan dialah pelaku dari “sangka” itu sendiri. Sedangkan rasa itu sebenarnya yang menjadi palaku utama dari hati. “Pikiran” mendiami otak manusia dan “Rasa” bertempat di dalam hati manusia. Mereka saling berinteraksi secara cepat seakan tidak berjarak, bahkan lebih cepat dari kilatan cahaya sekalipun.

Bilakaifin

Sangka dan Rasa itu tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak dapat diraba, dan tidak terpengaruh waktu dan tempat. Namun ingat ini baik-baik, dia bukan Tuhan. Katika kamu menelaah sangka tentang bunyi, maka kamu jangan mencari bentuk sangka itu, begitu juga dengan rasa yang tidak perlu dipersepsi bentuknya. Kamu hanya perlu berpikir masalah kesimpulan sangka dan rasa. Karena itulah yang akan kamu bawa berdasarkan luasnya pemikiran diperjalanan hidup. Saya tidak mengatakan pengalaman ikut berperan di dalamnya, karena pengalaman itupun sudah melalui atau sudah diproses oleh sangka dan rasa itu sendiri. Maka ketika kamu menemukan persepsi berbeda mengenai musik (bahkan sesuatu lainnya), itu wajar saja dan biasa saja. Karena memang sangka dan rasa manusia itu berbeda.

Permainan Sangka dan Rasa

Musik adalah bahasa bunyi yang terpola dan merupakan hasil ekspresi manusia akan suatu penggambaran dalam bingkai keindahan. Musik adalah seni yang membahas berbagai suara kedalam pola-pola yang dapat dimengerti manusia. Artinya musik adalah penerapan pola bunyi sesuai keinginan manusia untuk mengekspresikan suatu bingkai ide kedalam bahasa bunyi. Walau penafsiran mengenai musik kadang berbeda, namun mempunyai keterhubungan penafsiran yang sama, yaitu sama-sama menafsirkan bunyi menurut persepsinya masing-masing. Oleh karena itu bila terdapat perbedaan pandangan terhadap suatu musik, itu berkisar pada pada permainan Sangka dan Rasa walau dalam alasan yang bisa dicerna otak manusia, yaitu masalah bentuk, konsep, dan ide penyampaian. Wajar saja musik itu berbeda, karena masing-masing budaya atau manusia akan mempunyai apresiasi, penyampaian, bahkan konsep yang jauh berbeda.



Musik mencakup irama, melodi, harmoni, struktur sebagai penggambaran pikiran dan perasaan. Bentuk dan ekspresi secara menyeluruh akan dipersepsi manusia dan disimpulkan menjadi musik. Sementara bentuk mengacu pada keinginan atau bisa saja terpengaruh kebiasaan penciptanya yang kebanyakan mengacu pada pendidikan dan pengalaman pembuatnya. Oleh karena itu bentuk musik itu relatif dan bebas. Walau nantinya terdapat kebebasan atau keliaran bentuk musik seseorang, namun tetap saja dia akan membuat musik dalam tatanan musikal baku, seperti irama, melodi, dan harmoni. Jadi bentuk musik itu tidak dibatasi secara mutlak oleh suatu hukum musikal, namun dia akan berjalan sesuai tatanan hukum musikal itu sendiri. Artinya tidak bisa terlepas dari susunan irama, melodi, dan harmoni tertentu walau ada tendensi bahwa sipembuat musik itu tidak mengindahkan bentuk-bentuk tertentu, tapi akan terpola secara sendirinya. Inilah yang membuat musik itu terpola secara baku bila kita membicarakannya menurut kaidah-kaidah musik secara umum. Inilah yang membuat musik itu juga berbeda antara satu dengan lainnya. Inilah kesimpilan akhir dari Sangka dan Rasa yang bisa difahami manusia.

Musik adalah nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang menghasilkan bunyi). Secara sederhana musik adalah kumpulan nada yang tersetruktur sehingga menjadi suatu irama dan secara luas akan menjadi suatu susunan nada yang kompleks. Bunyi-bunyi inilah nantinya yang diejawantahkan menjadi musik, baik itu sederhana sampai yang rumit sekalipun. Oleh karena itu musik mempunyai kebebasan bentuk dari masing-masing individu.

Sesederhana apapun bentuk musik ditentukan oleh pengetahuan, keahlian, dan pengalaman sipembuat musik itu sendiri. Disalamnya terdapat rentang waktu yang berhubungan dengan panjang pendek bunyi (durasi nada). Dia akan memenuhi ruang-ruang yang disediakan sedemikian rupa menurut penciptanya dan dalam ruang tersebut bunyi itu mengalir menjadi suatu kesatuan bunyi. Dalam ruang itu juga sipembuat musik menyampaikan gagasan melalui bentuk tertentu, menggunakan ritme tertentu, memainkan melodi tertentu, sampai pada penerapan harmoni tertentu. Semua itu akan ditangkap oleh kuping manusia lalu disimpulkan oleh Sangka lalu ditafsirkan pula oleh Rasa manusia. Indah atau tidak indah hasil bunyi yang disusun itu bersifat relatif, tentunya menurut selera pendengarnya masing-masing yang kesemuanya itu juga dari rasa. Oleh karena itu manusia kebanyakan menafsirkan musik menurut sangka (persepsi) dan rasa (intuisi batiniah) di dalam hatinya. Kalau musik itu enak, maka musik disetujui oleh rasa seseorang. Kalau musik itu tidak enak, maka ia tertolak dari hatinya.

Sangka seseorang terhadap suatu bunyi (satu nada) bisa dipersepsi secara luas yang sudah pasti berbeda. Apalagi sangka ketika mendengar musik dari gabungan banyak nada. Sangka dalam hati manusia inilah yang melahirkan rasa terhadap bunyi. Sebagai contoh ketika kamu mendengar musik mengalun dengan melodi tertentu, sangka akan menangkap bahwa musik itu menggambarkan sesuatu. Sementara rasa kemudian menghadirkan damai dan ketenangan. Namun sadarlah kamu, kalau musik tersebut bisa saja sangka sebagai musik sedih dan rasa akan membawanya pada tragedi memilukan. Jadi sangka akan melahirkan rasa dan menyimpulkan berdasarkan sangka-rasa tersebut.

Bebas seperti alam

Bebaskan dirimu seperti alam dari sangka dan rasa, begitu juga membebaskannya dialam bunyi, karena bunyi itu juga sebenarnya adalah alam tersendiri. Ketika hati dan pikiran kamu terbuka seperti langit, maka kamu akan bisa menelaah semua musik dan menerima bunyi sebagai sahabat, bukan lagi enak atau tidak enak. Kamu akan berpikir antara cocok dan tidak cocok, hanya itu. Inilah mengapa dalam seni tidak ada kata-kata indah dan tidak indah, yang ada antara cocok dan tidak cocok. Kalau cocok dengan persepsi otak (sangka) dan persepsi hati (rasa), maka akan dikatakan indah, kalau sebaliknya maka kamu akan menghakimi musik itu tidak indah. Namun kalau kamu berada pada tingkatan ini, maka kamu belum membebaskan jiwa seperti alam. Manusia yang bebas dialam bunyi, dialah bunyi itu sendiri, tanpa ke-aku-an dan tanpa peng-aku-an, lalu lebur dalam ketiadaan, tanpa dipengaruhi permainan Sangka-Rasa

Orang yang bebas bermain di alam bunyi adalah orang yang bisa melepaskan dari permainan sangka-rasa. Bagaimana kamu bisa mempersepsi bunyi secara utuh kalau kamu belum bisa melepaskan dari keduanya. Orang yang bisa memberi tanggapan adalah orang yang menjadi penonton, oleh karena itu kamu harus keluar dari permainan sangka dan rasa. Jika kamu merasa bisa memberi tanggapan terhadap sangka-rasa, maka sadarilah… sebenarnya kamu hanya dikendalikan oleh keduanya. Oleh karena itu bebaskanlah dirimu seperti alam, bahkan seperti bunyi itu sendiri yang bebas tanpa dibatasi pemikiran dan perasaan.

Jumat, 02 Juni 2017

Estetika Barat II

Kali ini akan dipaparkan estetika menurut pandangan barat. Adapun untuk lebih jelasnya silahkan baca Estetika Barat I. Hal ini agar tulisan ini dapat mudah dimengerti. Silahkan baca Estetika Barat II sampai tuntas.

Plotinus (205-270)

Plotinus adalah pendiri Neo Platonis. Ia dikenal dengan filsafatnya tentang pengaliran (emanasi), semua hal dari yang Esa dan semua kembali kepadaNya. Sesuai dengan pemikiran itu, pandangannya tentang keindahan berangkat dari kenyataan duniawi yang kita saksikan dan yang kita alami sehari-hari. Di dalam upayanya mengetahui asal semua hal, termasuk diri manusia sendiri, manusia mulai menempuh jalan kembali tersebut. Di dalam menghadapi kenyataan itu dan di dalam perjalanan kembali ke sumbernya, manusia mengalami sesuatu yang disebut "indah". "Keindahan" itu ia temukan, baik yang terlihat maupun yang terdengar, bahkan juga dalam watak dan tingkah laku manusia. Ia memberikan definisi keindahan sebagai kesatuan, simbolisme, dan keseragaman. Menurut Plotinus, hidup adalah forma dan forma adalah keindahan.
Pandangannya yang lain dikatakan bahwa, keindahan itu adalah pancaran budi Ilahi. Apabila yang hakikat menyatakan dirinya atau memancarkan sinarnya dalam realitasnya yang penuh, itulah keindahan. Seniman adalah orang yang tajam pandangannya, yang dapat melihat keindahan Ilahi.

Santo Augustinus (354-430)

Filsafat Augustinus cukup dipengaruhi Neoplatonisme. Bahkan dalam hal-hal tertentu dipandang hanya mengulang kembali ucapan-ucapan Plato. Ia mendefinisikan keindahan sebagai kesatuan bentuk (omnis pulcritudinis forma unitas est). Augustinus berpendapat bahwa pengamatan mengenai keindahan mengandaikan dan memuat suatu penilaian. Artinya, apabila suatu objek dinilai jelek, maka objek tersebut diamati sebagai sesuatu yang menyimpang dari yang seharusnya terdapat di dalamnya, yaitu ketidakteraturannya. Kita dapat mengamati kedua-duanya apabila memiliki idea tentang "keteraturan ideal" yang dapat diterima lewat Terag Ilahi (divina illuminatio).

Thomas Aquinas (1225-1274)

Rumusan Thomas yang paling terkenal ialah "Keindahan berkaitan dengan pengetahuan; sesuatu dinyatakan indah jika sesuatu itu menyenangkan mata sang pengamat". Artinya, pengalaman keindahan muncul apabila terdapat pengetahuan dan pengalaman di dalam diri manusia. Thomas Aquinas menyaratkan tiga hal agar sesuatu bisa disebut indah, yaitu:
  1. Adanya integritas atau perfeksi
  2. Proporsi yang tepat atau harmonis
  3. Adanya klaritas atau kejelasan.

Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762)

Baumgarten sebenarnya tidak banyak memberikan pemikiran baru mengenai teori keindahan. Akan tetapi, karena jasanya memperkenalkan istilah "Aesthetika" sebagai bidang penyelidikan khusus mengenai teori tantang keindahan kepada dunia, sehingga ia diberi gelar "Bapak Ilmu Estetika". Baumgarten adalah seorang filosof Jerman yang membedakan adanya tiga kesempurnaan di dunia ini, yaitu:
  1. Kebenaran, ialah kesempurnaan yang ditangkap dengan rasio
  2. Kebaikan, ialah kesempurnaan yang ditangkap dengan moral, dan
  3. Keindahan, ialah kesempurnaan yang ditangkap dengan indera.

Immanuel Kant (1724-1804)

Immanuel Kant seorang filosof terkemuka dari Jerman, yang hidup semasa dengan Baumgarten. Ia membagi teori keindahannya menjadi empat bagian, yakni teori disinterestedness, teori universalitas, teori esensialitas, dan teori bentuk tujuan. Teori Kant yang paling terkenal dan sering dikutip orang dari keempat teorinya itu ialah teori disinterestedness yang menyatakan bahwa
"Keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan tanpa pamrih dan tanpa adanya konsep-konsep tertentu". Di dalam menikmati keindahan suatu objek harus menghilangkan kepentingan hidup sehari-hari seperti kepentingan memiliki, menguasai, dan memanfaatkan. Penilaian keindahan harus dipisahkan dari keberadaan atau eksistensi objeknya.

Hogart

Hogart seorang berkebangsaan Inggris, di dalam bukunya berjudul "Analysis of Beauty" terbit pada tahun 1753, memberikan analisis tentang keindahan. Ia berpendapat bahwa keindahan erat sekali hubungannya dengan seni bangunan (formatif art), seperti seni ukir, seni patung, dan arsitektur. Prinsip abstrak tentang kesatuan dalam keanekaan (unity in variety) dipandang sebagai tingkat tertinggi dari keindahan. Hogart pada praktik artistiknya berusaha mencari keistimewaan dibalik kejelekan.

Beberapa tokoh Barat lainnya mengemukakan pengertian keindahan, di antaranya:
  1. Mortimer Adler; keindahan adalah sifat dari sesuatu benda yang memberi kita kesenangan yang tidak berkepentingan, yang kita bisa memperolehnya semata-mata dari memikirkan atau melihat benda individual itu sebagaimana adanya.
  2. Charles J. Bushnell; keindahan adalah kualitas yang mendatangkan penghargaan yang mendalam tentang berbagai nilai atau ideal yang membangkitkan semangat.
  3. Samuel Coleridge; keindahan adalah perpaduan dari sesuatu yang baik bentuknya dengan yang bertenaga hidup.
  4. Benedetto Croce (filosof Italia); keindahan adalah pengungkapan yang berhasil dari suatu institusi.
  5. Friedrich Hegel (filosof Jerman); keindahan adalah idea yang terwujud di dalam indera.
  6. Michelangelo (seniman); keindahan adalah penyingkiran hal-hal yang berlebihan.



Daftar Pustaka:
Sukarman B, 2006. Estetika. Makassar: Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Makassar.
http://kiossahabatbaru.blogspot.co.id/2012/06/keindahan-menurut-pandangan-barat.html

Sabtu, 20 Mei 2017

Estetika Barat I

Keindahan Menurut Pandangan Barat

Di dalam sejarah perkembangan estetika Barat, cukup banyak tercatat filosof terkemuka yang telah memberikan pandangannya tentang keindahan. Beberapa pandangan di antara filosof Barat tersebut diuraikan berikut ini.

Socrates (469-369 SM)

Socrates dikenal sebagai ahli pikir pertama Yunani yang membicarakan keindahan. Pembicaraan menarik tentang keindahan yang dilakukan Socrates terjadi ketika berdiskusi dengan Hippias. Di dalam diskusi suatu diskusinya, Sokrates meminta perumusan atas pertanyaan: apakah keindahan itu? Dari mana diketahui bahwa sesuatu itu indah dan yang lain tidak? Katakanlah apa itu indah dan apa itu cantik?
Kata Sokrates: orang jujur adalah jujur karena memiliki kejujuran, bukankah kejujuran itu sesuatu yang tertentu?
Sahut Hippias: memang demikian.
S: Karena memiliki kebijaksanaan maka orang bijaksana menjadi bijaksana, dan karena memiliki kebaikan maka barang baik menjadi baik?
H: Ya, tidak perlu disangkal.
S:  Sekarang aku ingin bertanya apakah barang-barang yang indah menjadi indah karena memiliki keindahan?
H: Ya, karena memiliki keindahan.
S:  Jadi keindahan itu sesuatu yang nyata?
H:  Demikianlah, lantas apa yang ditanyakan?
S: Kawan yang baik, sekarang beritahulah aku apa sesuatu ini, this beauty or the beautiful?

Sokrates meminta ide keindahan, 'gagasan umum' yang menyebabkan semua barang indah menjadi indah. Sokrates tidak menanyakan yang apa yang bersifat indah, tetapi Hippias menjawab:

H: Aku tahu maksudmu, wahai kawanku yang jujur. Kukatakan pendapat yang diakui seluruh dunia. Kebenaran harus dikatakan, wahai Sokrates: a beautiful maiden is the thing beautiful: Dara cantik adalah sesuatu yang cantik.
S: Bagus sekali, wahai Hippias: …… akan tetapi ku ingin mengulangi pertanyaanku. Aku tidak menanyakan apa yang bersifat cantik, ku ingin tahu apakah ada sesuatu yang dinamakan kecantikan, yang jika ia ada pada sesuatu maka kita sebut barang itu cantik. Aku tentu tidak bisa mengatakan demikian: “Dara yang cantik adalah kecantikan itu sendiri, jika ia ada pada sesuatu maka barang itu berhutang kecantikan dari padanya. Sokrates lantas mengemukakan: “Tidakkah kuda yang indah juga indah”: sudah barang tentu kita tak dapat membantah bahwa barang yang indah adalah benar-benar indah.
H: Benar, Sokrates. Tuhan Maha Pemurah, memang ada kuda yang luar biasa indahnya.
S:Baiklah sekarang, tidakkah guitar yang indah juga sesuatu yang indah dan cantik? Benarkah demikian, wahai Hippias? Juga lukisan?
H: Tentu saja.
S:  Bagaimana pendapatmu tentang belanga yang indah? Apa ia juga sesuatu yang indah?
H: Indah, terutama kalau dibuat oleh seorang yang ahli, halus, bundar, dan cukup matang terbakar.
Hippias menambahkan bahwa sendokpun bisa jadi indah, akan tetapi kita tidak dapat mengatakannya dalam arti sama cantiknya seperti kuda atau gadis dara. Sokrates memberi bumbu kepada perkataan Hippias: memang Heraklitus pernah mengatakan bahwa kera yang tercantik jika dibandingkan dengan orang maka ia masih jelek. Demikian juga seorang gadis cantik, bukanlah apa-apa kalau dibandingkan dengan bidadari dari sorga; sebagaimana orang yang paling arif bijaksanapun, bila dibandingkan dengan Tuhan, tentu masih tampak kera dalam segala hal. Akan tetapi baiklah kita tidak melantur, kata Sokrates, kita kembali pada pertanyaan semula: what the beautiful is.
Di dalam salah satu dialognya dengan Hippias, Sokrates juga pernah berkata, "Kecantikan bukan sifat tertentu dari seratus atau seribu barang, karena sudah barang tentu manusia, kuda, pakaian, dara dan guitar semuanya adalah barang-barang cantik. Akan tetapi di belakang itu semua terdapat kecantikan itu sendiri, the beauty itself. Pendapat Sokrates yang menyinonimkan kecantikan dengan keindahan itu dapat dipahami bahwa setiap objek memiliki keindahannya sendiri-sendiri.
Pernyataan keindahan Sokrates yang lebih tegas diungkapkan pada suatu waktu dengan menyatakan bahwa,  "Keindahan adalah segala sesuatu yang menyenangkan dan memenuhi keinginan terakhir".

Plato (427-347 SM)

Plato adalah murid Sokrates yang memandang keindahan dengan teori metafisika. Pandangan-pandangannya tentang keindahan dapat ditelusuri melalui dialog symposium yang pernah ia lakukan. Inti pandangannya tentang keindahan antara lain dinyatakan bahwa: terlepas dari pengalaman jasmani.
Keindahan adalah realitas yang sungguh-sungguh sejenis hakikat yang abadi dan tak berubah-ubah.
Keindahan di dalam kehidupan sehari-hari hanyalah keindahan taraf kedua. Untuk mencapai keindahan yang ideal harus melalui cinta. Istilah "cinta" dijelaskan oleh Sokrates dengan mengatakan bahwa "cinta adalah sesuatu yang bertentangan; ia berasal dari keinginan kepada sesuatu yang belum dipunyai dan kecenderungan kepada sesuatu yang belum ada pada diri seseorang". Untuk mengetahui keindahan yang sebenarnya di muka bumi ini kita harus terlebih dahulu mengosongkan pikiran dan membersihkannya dari segala kesalahan dan dosa yang pernah terjadi dan mencoba mengembalikan kesucian jiwa kita.
Pandangan-pandangan keindahan yang dikemukakan Plato menggunakan cara kaum Sufi di dalam memahami hakikat. Hal itu tampak dalam dialognya yang berusaha menunjukkan cara mencapai keindahan mutlak. Simaklah ucapan-ucapan Plato berikut ini yang berusaha menjelaskan cara mencapai keindahan mutlak.

Plato menjelaskan bahwa, orang dapat mencapai tingkat itu dengan cara yang sangat mirip dengan peristiwa bersatunya insan dengan Tuhan dalam keyakinan kaum kebatinan. Orang yang meningkat pengetahuannya mengenai rahasia cinta hingga mencapai titik pada tingkat rahasia terakhir, akan melihat dengan tiba-tiba keindahan yang sangat aneh, yakni bentuk keindahan yang terakhir, keindahan abadi yang tak berubah dan tak mengenal musnah, tak mengenal layu, dan tidak mengenal tambah. Dengan menyapa Sokrates, Plato pun melanjutkan penjelasannya bahwa, tak ada sesuatu di dalam hidup ini yang lebih berharga dari pemandangan keindahan abadi itu. Aku bertanya-tanya, tak ada sesuatu yang lebih indah dari suasana yang dianugerahkan kepada orang yang bernasib dapat merenungkan keindahan murni dalam kejernihan dan kesederhanaannya, jauh dari segala keruhnya tubuh dan aneka ragam sifat kemanusiaan, tak bercampur dengan kesenangan-kesenangan duniawi yang pasti sirna. Orang itu dapat menikmati keberadaannya di hadapan keindahan Ilahi yang tak ada bandingannya. Dari pemikiran mengenai keindahan abadi akan timbul keluhuran budi yang benarnya, bukan dalam bentuknya yang palsu, karena kebenaranlah yang ia ganrungi.

Pernyataan-pernyataan di atas menggambarkan tangga cinta Platonis menuju ke arah pencarian cinta tertinggi, dan cinta tertinggi inilah yang dianggap satu-satunya cinta yang dapat membimbing kita ke jalan yang benar. Mencari keindahan merupakan usaha mencapai keabadian, menyerupai pensucian diri yang membangkitkan rasa cinta dan kesenangan. Tanpa usaha ini, orang dipandang akan mendapatkan dirinya seolah-olah telah ditakdirkan untuk bergumul dengan lumpur kepalsuan barang-barang dunia. Berkat keindahan mutlak yang sederhana dan bersih (tidak bercampur aduk dengan kotornya tubuh jasmani atau segala kepalsuan duniawi), orang dapat mencapai wujud yang mutlak, memperoleh keselarasan semesta dan keharmonisan universal.
Di dalam filsafat Plato, keindahan tidak pernah disederajatkan dengan kehidupan. Keindahan dianggap tidak berwujud di muka bumi. Ia lebih tinggi dan berada di atas alam semesta ini. Akan tetapi, walau jauh perbedaan jarak antara keindahan duniawi dan keindahan mutlak yang sebenarnya, orang dapat menyingkap sinarnya yang cemerlang di antara ide-ide yang berada di atas dunia ini. Jadi, inti pemikiran Plato adalah memandang keindahan di muka bumi ini sebagai imitasi tak sempurna dari keindahan mutlak.

Aristoteles (384-322 SM)

Aristoteles adalah murid Plato. Pemikiran-pemikirannya mengenai keindahan disimpulkan dari cuplikan-cuplikan tulisannya. Salah satu tulisannya menyebutkan bahwa, "Barang yang terdiri dari bagian yang berbeda-beda tidak sempurna keindahannya, kecuali bila bagian-bagiannya teratur rapi dan mengambil dimensi yang tidak dibuat-buat; karena keindahan hanyalah pengaturan dan keagungan". Jadi, keindahan bagi Aristoteles terdiri dari keserasian bentuk yang setinggi-tingginya. Ia tidak mementingkan pemandangan manusia seperti apa adanya di dalam kenyataan, tetapi menurut bagaimana seharusnya.

Pemikiran Aristoteles mengenai keindahan sedikit berbeda dengan pemikiran Plato. Plato memandang idea keindahan mutlak sebagai prinsip transenden di atas subjek dan di atas alam sebagai tauladan asli yang abadi, idea murni yang berada diluar akal. Aristoteles memandangnya hanya sebagai tauladan batin yang terdapat di dalam akal manusia, tidak mempunyai objek yang dapat kita temukan di luar diri kita.
Tidak ada suatu ideapun yang melampui batas akal manusia dan alam semesta. Segala sesuatunya ada di dalam diri kita, dan idea itu ada di dalam diri manusia. Kata Aristoteles, "kita tidak menginginkan kegunaan dan kepastian kecuali demi keindahan, tetapi keindahan ini bersatu padu dengan akal manusia".
Demikianlah pandangan-pandangan Aristoteles tentang keindahan. Sesudah Aristoteles tidak ada lagi teori estetis yang dipandang orisinil.



Sumber pustaka http://kiossahabatbaru.blogspot.co.id/2012/06/keindahan-menurut-pandangan-barat.html

Sabtu, 22 April 2017

Estetika Cina Menurut Tao

Pembahasan estetika (keindahan) menurut pandangan bangsa Cina cenderung merujuk pada kepercayaan Tao yang membawa pengaruh luas terhadap perkembangan kebudayaan, termasuk falsafah tentang keindahan. Pandangan mengenai keindahan ini erat kaitannya dengan kepercayaan Tao yang seakan secara mutlak menjadi rujukan seniman untuk berkarya, sehingga nilai religi yang mengagungkan kesucian sangat terlihat jelas dalam karya-karya pada jaman tersebut. Adapun beberapa pandangan tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut ini.

Pandangan Keindahan di Cina

Bangsa Cina di dalam peradabannya menganut kepercayaan bernama Tao yang dianggap sumber dari nilai-nilai kehidupan. Secara harafiah Tao  berarti jalan atau marga. Ada pula yang mengartikan Tao sebagai sinar terang dan sumber dari segala sumber yang ada. Bagi bangsa Cina, manusia dianggap sempurna apabila hidupnya diterangi oleh Tao. Tao dianggap kemutlakan, sesuatu yang memberikan keberadaan, kehidupan, dan kedamaian. Kepercayaan inilah yang menjadi salah satu landasan estetika Cina. Barang-barang buatan manusia dianggap indah apabila dinafasi oleh Tao.

Penjelasan konsep keindahan bangsa Cina yang disemangati oleh kepercayaan Tao diperoleh melalui ungkapan salah seorang filosofnya yang juga dianggap nabi, yaitu Kong Hu Cu. Filosof ini menyatakan bahwa,
"Bagaimana seseorang yang rusak dan bejad hidupnya mampu membuat barang-barang yang indah, padahal barang-barang yang indah adalah penjelmaan dari Tao".
Oleh karena itu, tugas seniman adalah menangkap Tao atau roh tersembunyi di dalam segala sesuatu yang ada dan menampilkannya lewat karya seninya. Untuk itu, seorang seniman wajib mensucikan diri supaya mampu melihat, menyentuh, serta menangkap roh tersembunyi di dalam barang-barang lewat kontemplasi (dengan kata lain mempunyai kesadaran Tao), dan dengan demikian ia akan mampu menciptakan keindahan.

Penjelasan di atas cukup memberikan pemahaman bahwa konsep keindahan bangsa Cina berlandas pada kepercayaan Tao. Namun demikian, keindahan pada sebuah karya tidak dipandang sebagai totalitas yang sempurna. Potensi buruk dianggap selalu hadir pada karya yang indah. Demikian pula sebaliknya, pada karya yang buruk dipandang memiliki potensi keindahan. Pandangan ini dibentuk oleh filsafat Yin dan Yang, yang dianggap mengandung seluruh aspek kehidupan manusia. Filsafat Yin dan Yang disimbolkan dengan sebuah lingkaran yang mengandung dua unsur, seperti gambar di bawah ini.

Bagian hitam menyimbolkan Yin sedangkan bagian putih menyimbolkan Yang. Di dalam Yang ada titik Yin. Demikian pula sebaliknya, di dalam Yin ada Yang. Titik ini dipandang memiliki daya yang luar biasa, yakni adanya kontradiksi inti yang ada di dalam segala sesuatu. Artinya, tidak ada sesuatu yang seluruhnya (100 %) baik atau buruk, tak ada sesuatu yang seluruhnya indah atau jelek. Titik Yin atau Yang yang terdapat di dalam masing-masing unsur tersebut sebenarnya adalah sesuatu benih yang dapat berkembang di dalam kondisi yang berlawanan.
Filsafat Yin dan Yang menunjukkan bahwa estetikapun pada akhirnya selalu relatif. Di dalam jiwa manusia yang gersang rasa keindahan sesungguhnya masih mungkin dihidupkan roh keindahannya apabila yang bersangkutan mempunyai kekuatan untuk mengubahnya. Sebaliknya, mereka yang berbakat menciptakan keindahan justru dapat kehilangan daya estetiknya apabila kemampuannya tidak pernah dimanfaatkan.
Pada akhir abad V, Hsieh Ho seorang filosof Cina menyusun enam prinsip sebagai dasar bagi para seniman bekerja yang kemudian terkenal dengan istilah canon estetika Cina.
  1. Ch'l Yun Sheng Tung, yaitu bersatunya Roh semesta dengan dirinya sehingga ia mampu menangkap keindahan (dari Tao) dan kemudian menampilkan atau mewujudkan pada karyanya.
  2. Ku Fa Yung Pi, yaitu kemampuan menyerap Roh  Ch'l atau roh kehidupan dengan cara mengesampingkan bentuk dan warna semarak, sehingga warna spiritual akan tampak dalam karya-karyanya. Refleksi prinsip ini tampak pada beberapa lukisan Cina saat itu, yang penuh dengan ruang kosong dan kesunyian. Seorang pelukis Cina, Tsung Ting (375-443) disebutkan sebagai gambaran bahwa, sebelum melukis pemandangan alam, ia terlebih dahulu melakukan meditasi agar rohnya menjelajahi alam semesta secara bebas.
  3. Ying Wu Hsiang Hsing, yaitu merefleksikan objek dengan menggambarkan bentuknya: yakni konsekuen terhadap objek atau yang disusunnya. Kaitannya dengan itu, Ch'eng Heng-lo pernah mengatakan, "Seni lukis Barat adalah seni lukis mata, sedangkan seni lukis Cina adalah seni lukis idea". Ungkapan itu jelas menunjukkan bahwa seni lukis Cina mementingkan esensinya, bukan eksistensinya.
  4. Sui Lei Fu Ts'ai, yaitu keselarasan dalam menggunakan warna. Seni lukis Cina dalam penggunaan warna tidak bersifat fungsional, tetapi lebih bersifat simbolisme.
  5. Ching Ting Wei Chih, yaitu pengorganisasian, penyusunan, atau perencanaan dengan mempertimbangkan penempatan dan susunan. Seni Cina menganjurkan mengadakan semacam perencanaan terlebih dahulu sebelum berkarya.
  6. Chuan Mo I Hsieh, yaitu hendaknya membuat reproduksi-reproduksi agar dapat diteruskan dan disebarluaskan.
Dari enam prinsip tersebut dapat terlihat semangat Tao dalam pandangan estetika Cina begitu mendalam dan menyebar ke berbagai negara di sekitarnya hingga sekarang.



Sumber foto http://tikarmedia.or.id/picture/picture_detail/2019

Minggu, 16 April 2017

ESTETIKA: Periode Skolastik sampai Idealis

Periode Skolastik

Dalam sejarah Filsafat Barat abad pertengahan adalah masa timbulnya filsafat baru. Hal ini dikarenakan kefilsafatan itu dilakukan oleh bangsa Eropa Barat dengan para filosofnya yang umumnya pemimpin gereja atau penganut Kristiani yang taat dandikenal dengan sebutan Filsafat Skolastik. Dalam abad pertengahan ini masalah theologia mendapat perhatian utama dari para filosof. Masalah estetika dikemukakan oleh Thomas Aquinas (pengagum Aristoteles) yang hidup pada tahun 1225-1274, menurutnya keindahan itu terdapat dalam 3 kondisi, yaitu :
  1. Integrity or perfection  (keutuhan atau kesempurnaan)
  2. Proportion or harmony  (perimbangan atau keserasian)
  3. Brightness or clarity  (kecermelangan atau kejelasan)
Munurut Thomas Aquinas, hal-hal yang cacat (tidak utuh, tidak sempurna) adalah jelek, sedangkan hal-hal yang berwarna cemerlang atau terang adalah indah. Tiga unsur keindahan itu oleh para ahli modern disebut kesatuan, perimbangan dan kejelasan.

Periode Renaissance

Kata Renaissance berarti kelahiran kembali, yaitu membagun kembali semangat kehidupan klasik Yunani dan Romawi dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni. Gerakan pembaharuan ini dilakukan terutama oleh para humanis Italia yang dimulai kurang lebih abad ke XIV. Gerakan ini hampir disegala bidang ilmu pengetahuan kesenian dan filsafat. Tetapi yang paling pada bidang seni. Uraian mengenaai estetika secara luas ditulis oleh Massilimo Visimo, sedangkan penulis-penulis lainnya banyak mengulas teori-teori seni. Leon Batista dan Albert Durer dalam bidang seni rupa, Giosefe Zarlino dan Wincenzo Galilei dalam bidang musik,serta Lodovia Castelvetro dalam bidang puisi.

Periode Aufklarung

Pencerahan merupakan gerakan lanjutan dari Renaissance. Dalam periode ini masih terlihat pengaruh rationalisme Descartes dan Empirisme Bacon dalam pembahasan Estetika. Baumgarten (Alexander Gotlieb Baumgarten), dia seorang filsuf Jerman (1714-1762) adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah ”estetika” sebagai ilmu tentang seni dan keindahan. Baumgarten membedakan pengetahuan itu menjadi 2 macam:
  1. Pengetahuan intelektual (intellectual knowledge)
  2. Pengetahuan indrawi (sension knowledge) (The liang Gie, 1980)
Pengetahuan intelektual disebut pengetahuan tegas, sedangkan pengetahuan indrawi dianggap pengetahuan kabur. Estetika adalah ilmu tentang pengetahuan indrawi yang tujuannya adalah keindahan. Tujuan keindahan adalah untuk menyenangkan dan menimbulkan keinginan. Manifestasi keindahan tertinggi tercermin pada alam, maka tujuan utama dari seni adalah mencontoh alam.

Pengaruh Empirisme Bacon nampak dalam hal imajinasi rasa estetis atau cita rasa. Hal ini terlihat dalam pendapat Edmund Burke dan Lord Kaimes. Menurut Edmud Burke (1729-1798) masalah selera itu tidak dapat dijadikan hakim dalam keindahan (Wajiz Anwar, 1980). Sedangkan Lord Kaimes dalam karyanya Elements of Criticism yang terbit pada tahun 1961 sependapat dengan Burke. Keindahan adalah sesuatu yang dapat menyenangkan selera.

Dia mengemukakan suatu titik tolak baru, bahwa pengalaman mengenai suatu emosi walaupun sangat pedih seperti emosi takut atau kesengsaraan adalah menyenangkan. Emosi yang menyedihkan adalah menyenangkan bila direnungkan. Perang, bencana alam adalah  menyedihkan, tetapi menyenangkan bila kita melihatnya dipanggung sandiwara atau dalam seni film. Kejadian yang paling dahsyat dan mengerikan justru paling mengesankan dan menggembirakan bila diingat. Keindahahan ialah menyenangkan. Oleh karena itu keindahan ditentukan oleh selera semata-mata.

Periode Idealis

Sejalan dengan perkembangan filsafat, idealisme  mempengaruhi pendangan estetika di Jerman. Immanuel Kant merupakan filsuf pertama yang mengemukakan teori estetika dari pandangan objektif. Maka penyelidikan estetika berubah, dari penelaahan ontologis beralih ke bidang ilmu jiwa, yang sebelumnya telah dirintis oleh rationalime dan empirisme. Filsuf-filsuf yang termasuk dalam peroide ini diantraanya adalah: Immanuel kant, Schiler, Scheling dan Hegel. Pandangan Immanuel Kant akan di bahas pada tulisan selanjutnya.

Kamis, 13 April 2017

ESTETIKA: Periode Klasik

Sebelumnya saya sudah membahas pemahaman singkat mengenai estetika. Bagi anda yang belum membacanya, sarankan baca artikel pengertian dasar ESTETIKA. Baiklah, sekarang mari kita bahas mengenai sejarah perkembangan estetika. Saya tidak menjelaskan mengenai cikal-bakal ilmu atau metode penilaian estetik, namun yang saya bahas adalah sejarah perkembangannya. Tulisan pertama ini juga saya bahas secara singkat dalam satu periode. Insya Allah kedepannya saya bahas periode lainnya secara bersambung untuk mempersingkat tulisan. Hal ini juga bertujuan untuk memudahkan pembaca memahaminya. Silahkan baca artikel sejarah perkembangan estetika periode klasik berikut ini.

Sejarah perkembangan estetika didasarkan pada sejarah perkembangan estetika di Barat yang dimulai dari filsafat Yunani Kuno. Hal ini dikarenakan estetika telah dibahas secara terperinci berabad-abad lamanya dan dikembangkan dalam lingkungan Filsafat Barat. Hal ini bukan berarti di Timur tidak ada pemikiran estetika. Pemikiran mengenai nilai keindahan di dunia timur terkait erat dengan agama dan pemahaman suatu aliran spiritual, sehingga bahasannya selalu berikan dengan masalah keagamaan. Berbeda dengan barat yang memandang keindahan suatu karya manusia dalam dalam konteks kemanusiaan dan nilai yang terkandung di dalamnya (bahasan umum).

Secara garis besarnya, tahapan periodisasi estetika barat disusun dalam delapan periode, yaitu:
  1. Periode  Klasik (dogmatik)
  2. Periode Skolastik
  3. Periode Renaisance
  4. Periode Aufklarung
  5. Periode Idealis
  6. Periode Romantik
  7. Periode Positifistik
  8. Periode Kontemporer

Periode Klasik (Dogmatik)

Dalam periode ini para folosof yang membahas estetika diantaranya adalah Socrates, Plato dan Aristoteles. Dari ketiga filosof ini dapat dikatakan bahwa Socrates sebagai perintis, Plato yang meletakkan dasar-dasar estetika dan Aristoteles yang meneruskan ajaran-ajaran Plato.
Dalam periode ini ada beberapa ciri mengenai pandangan estetikanya, yaitu :
  1. Bersifat metafisik: Keindahan adalah ide, identik dengan ide kebenaran dan ide kebaikan. Keindahan itu mempunyai tingkatan kualitas, dan yang tertinggi adalah keindahan Tuhan.
  2. Bersifat objektifistik: Setiap benda yang memiliki keindahan sesungguhnya berad dalam keindahan Tuhan. Alam menjadi indah karena mengambil peranannya atau berpartisipasi dalam keindahan Tuhan.
  3. Bersifat fungsional: Pandangan tentang seni dan keindahan haruslah berkaitan dengan kesusilaan (moral), kesenangan, kebenaran dan keadilan.

Socrates: 468-399SM

Socrates sebagai seorang perintis yang meletakkan batu pertama bagi fundamen estetika, sebelum ilmu itu diberi nama. Dia adalah anak dari seorang pemahat yang bernama Sophromiscos dan ibunya bernama Phainarete adalah seorang bidan. Jalan pikiran yang dipergunakan Socrates dalam mencari hakekat keindahan ialah dengan menggunakan cara dialog. Socrates menamakan metodenya ”maeutika tehnic (seni kebidanan)” yang berusaha menolong  mengeluarkan pengertian-pemgertian atau kebenaran. Socrates mencoba mencari pengertian umum dengan jalan dioalog.

Dalam dialog-dialognya Socrates membuka persoalan dengan mempertanyakan sesuatu itu disebut indah dan sesuatu itu disebut buruk. Apakah sesuatu yang disebut indah itu memiliki keindahan? Lantas apakah keindahan itu? Disini Socrates mencoba merumuskan arti keindahan dari jawaban-jawaban lawan dialognya.

Menurut Socrates, keindahan yang sejati itu ada di dalam jiwa (roh). Raga  hanya merupakan pembungkus keindahan. Keindahan bukan merupakan sifat tertentu dari suatu benda, tetapi sesuatu yang ada dibalik bendanya itu yang bersifat kejiwaan.

Plato: 427-347SM.

Menurut Plato keindahan itu bertingkat., untuk mencapai keindahan yang tertinggi (keindahan yang absolut) melalui fase-fase tertentu (Wajiz Anwar, 1980). Fase pertama, orang akan tertarik pada suatu benda/tubuh yang indah. Disini manusia akan sadar bahwa kesenangan pada bentuk keindahan keragaan (indrawi) tidak dapat memberikan kepuasan pada jiwa kita. Setelah  kita sadar bahwa keindahan dalam benda/tubuh itu hanya pembungkus yang bersifat lahiriah, maka kita tidak lagi terpengaruh oleh hal-hal yang lahiriah. Manusia akan meningkatkan perhatiannya pada tingkah laku hal yang dicintai, yaitu pada norma-norma kesusilaan (noma moral) secara konkrit. Hal ini terlihat dalam tingkah laku dari orang/hal-hal yang kita cintai.

Dalam fase kedua, maka kecintaan terhadap norma moral secara konkrit  ini berkembang menjadi kecintaan akan norma moral secara absolut yang berupa ajaran-ajaran tentang kesusilaan/bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku yang baik.

Dalam fase ketiga, orang akan mengetahui jurang yang memisahkan antara moral dan pengetahuan, dan orang akan berusaha untuk mencari keindahan dalam berbagai pengetahuan. Orang Yunani dulu berbicara tentang buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah. Kalaui manusia sudah sampai pada fase yang ketiga ini maka akan mengantarkan manusia pada fase  yang keempat yaitu keindahan yang mutlak/absulut. Disinilah orang berhasil melihat keindahan mutlak, yang sesungguhnya indah, keindahan universal dan maha tingggi. Dan disinilah  segala sesuatu berasal dan kesitu pula segala sesuatu harus kembali.

Seni

Seni yang baik menurut Plato adalah seni musik. Musik mempunyai peranan yang penting dalam negara yaitu dapat mempengaruhi dalam bidang moral dan politik. Di bidang moral, musik dapat memperhalus perasaan manusia (musik yang sentimentil) dan dapat juga sebaliknya.

Dibidang politik, musik dapat mengubah jiwa patriotik dan kecintaan terhadap tanah air. Selain seni musik, maka retorik atau seni berpidato merupakan seni utilitary (seni dimana segi kegunaanya diutamakan, bukan keindahan, kebenaran atau kebijaksanaanya) maka seni ini lebih berguna bagi kaum politisi, yang bertujuan untuk menggalakkan orang lain dalam mengikuti tujuan akhirnya. ”Selalu pergunakanlah retorik dengan keadilan” adalah suatu anjuran yang akhirnya  Plato mengakui untuk eksistensinya, yakni untuk kemungkunan-kemungkinan didaktif. Problem hubungan antara seni dan pendidikan telah diungkapkan dalam bukunya Republik, tetapi ketika timbul lagi dalam Laws, tidak ada lagi sugesti untuk mengutuknya. Malah sebaliknya disini Plato secara tegas menguatkan keterangan hubungan satu sama lainnya. Musik, tarian dan nyanyan koor sangat terpuji karena nilai pendidikannya, dan tanpa banyak kesusahan lagi seni kini menjadi guru utama kehidupan.

Pembalikan yang sangat tajam konsep Plato ini disebabkan adanya hubungan harmonis antara seni dan kehidupan, sebagai akibatnya dia membukakan pintu perhatian adanya kemampuan mendidik pada retorik dan adanya sintesis dalam instruksi dan kesenangan, yang kemudian mewataki teori paedagogik seni. Konsekueninya tentang konsepsi seni sebagai gabungan antara yang baik, benar dan yang indah  (Abdul Kadir, 1974:10).

Seniman

Di dalam bukunya ”Republik”, Plato mempunyai pendapat yang tidak begitu ramah terhadap seniman. Negarawan mendapat tempat (penghargaan) yang lebih tinggi diantara manusia-manusia pencipta atau seniman, karena mereka menimbang masyarakat berdasar ide kebaikan, keadilan, kebenaran, dan keindahan. Seniman hanyalah meniru ide keindahan yang ada di dunia ini yang merupakan penjelmaan dari keindahan absolut/illahi yang ada di dunia idea. Seniman yang sejati adalah Demiurgus (Tuhan) yang menciptakan alam semesta sebagai imitasi dari idea bentuk yang abadi. Diantara seniman-seniman yang ada, Plato mempunyai pandangan positif terhadap sastrawan dan penyair.

Sastrawan

Tulisan-tulisan Plato termasuk sastra Yunani Klasik yang ditulis dengan gaya bahasa yang indah sekali. Dalam dialog yang berjudul ”Symposium” ia berpendapat bahwa suatu uraian lisan yang memakai gaya bahasa yang indah disebabkan oleh karena pengaruh seorang dewa,si pembicara itu sedang kemasukan roch seorang dewa.Disini Plato secara implisit menyinggung teori ”partisipasi”,seorang sastrawan dapat menulis dan berdendang dengan indah sekali karena ia ”ämbil bagian”dalam pandangan dan alam para dewa,ia seolah-olah diangkat diluar dirinya sendiri(ekstasis),diatas awan,dialam idea-idea ,melihat keadaan yang sebenarnya (Dick Hartoko,1983:31-32).

Penyair

Syair-syair yang indah itu bukan karya manusia, tetapi adalah syair surgawi dan ciptaan Tuhan.Parapenyair tersebut hanyalah merupakan penafsir Tuhan.Lewat teori ”partisipasi”maka seorang penyair yang rendah martabatnya dapat membawakan nyanyian-nyanyian yang terindah.Para penyair memiliki ”kekuatan misterius”yang bersifat Illahiah.Seniman tidak lagi mengimitasi ,tetapi sebaliknya ia memperoleh inspirasi yang karenanya merupakan bagian dari Illahi(Abdul Kadir,1976:7).

Aristoteles: 384-322 SM.

Keindahan dianggap sebagai suatu kekuatan yang memiliki berbagai unsur yang membuat sesuatu hal yang indah.  Dalam bukunya Poetics, Aristoteles mengatakan ”untuk menjadi indah, suatu makhluk hidup dan setiap kebulatan yang terdiri atas bagian-bagian harus tidak hanya menyajikan suatu ketertiban tertentu dalam pengaturannya dari bagian-bagian, melainkan juga merupakan suatu besaran tertentu yang pasti. Menurut Aristoteles unsur-unsur keindahan dalam alam maupun pada karya manusia adalah suatu ketertiban dan suatu besaran/ukuran tertentu (The Liang Gie, 1996:41).

Seni

Menurut Aristoteles, seni adalah kemampuan menciptakan sesuatu hal atas pikiran akal. Seni adalah tiruan (imitasi) dari alam, tetapi imitasi yang membawa kepada kebaikan. Walaupun seni itu tiruan dari alam seperti apa adanya, tetapi merupakan hasil kreasi (akal) manusia. Seni harus dapat menciptakan bentuk keindahan yang sempurna, yang dapat mengantarkan manusia menuju keindahan pada keindahan yang mutlak.

Minggu, 09 April 2017

ESTETIKA: Pengertian, Definisi, dan Pendekatan Studi

Pengertian Estetika

Istilah estetika berasal dari kata Yunani: Aistetika yang berarti hal-hal yang dapat dicerap dengan panca indra. Aisthesis yang berarti pencerapan panca indra (The Liang Gie, 1976:15). Jadi, estetika menurut arti etimologis, adalah teori tentang ilmu penginderaan. Pencerapan panca indra sebagai titik tolak dari pembahasan Estetika didasarkan pada asumsi bahwa timbulnya rasa keindahan itu pada awalnya melalui rangsangan panca indra.

Istilah estetika sebagai ”ilmu tentang seni dan keindahan” pertama kali diperkenalkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten, seorang filsuf Jerman yang hidup pada tahun 1714-1762. Walaupun pembahasan estetika sebagai ilmu baru dimulai pada abad ke XVII namun pemikiran tentang keindahan dan seni sudah ada sejak zaman Yunani Kuno, yang disebut dengan istilah ”beauty” yang diterjemahkan dengan istilah ”Filsafat Keindahan”.  

Keindahan, menurut luas lingkupnya dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
  1. Keindahan dalam arti yang terluas, meliputi keindahan alam, keindahan seni, keindahan moral, keindahan intelektual dan keindahan mutlak (absolut)
  2. Keindahan dalam arti estetis murni : menyangkut pengalaman esetetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya.
  3. Keindahan dalam arti terbatas hanya menyangkut benda-benda yang dicerap dengan penglihatan, yakni berupa kiendahan bentuk dan warna (The Linag Gie, 1996:17-18).  
Dalam kenyataanya, pencerapan indra penglihatan hanya bersifat terbatas yang menyangkut cahaya, warna dan bentuk. Keindahan dalam arti pengertian inderawi sebenarnya lebih luas daripada yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan, sebab beberapa karya seni dapat pula dicerap oleh indera pendengaran, misalnya seni suara.

Keindahan dalam arti luas mengandung pengertian idea kebaikan, misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan. Plotinus mengatakan tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang indah.

Definisi Estetika

Definisi estetika itu beragam. Tiap-tiap filsuf mempunyai pendapat yang berbeda antara satu dengan yang lain. Tetapi pada prinsipnya, mereka sependapat bahwa estetika adalah cabang ilmu filsafat yang membahas tentang keindahan atau hal yang indah, yang terdapat dalam alam dan seni. Definisi-definisi itu diantaranya:
  1. Definisi umum: Estetika adalah cabang filsafat yang membahas mengenai keindahan/hal yang indah, yang terdapat pada alam dan seni.
  2. Luis O. Kattoff: Cabang filsafat yang membicarakan definisi, susunan dan peranan keindahan, khususnya di dalam seni.
  3. Dictionary of Philosophy (dagobert D. Runes): Cabang filsafat yang berhubungan dengan keindahan atau hal yang indah, khusunya dalam seni serta citarasa dan ukuran-ukuran nilai baku dalam menilai seni.
  4. The Encyclopedia of Philosophy: Estetik adalah cabang Filsafat yang bertalian dengan penguraian pengertian-pengertian dan pemecahan persoalan-persoalan yang timbul bilamana seseorang merenungkan tentang benda-benda estetis. Pada gilirannya benda-benda estetis adalah semua benda yang tekena oleh pengalaman estetis; dengan demikian hanyalah setelah pengemalan estetis dapat secukupnya dinyarakan ciri-ciri bisalah seseorang menentukan batasnya golongan benda-benda estetis tersebut.
  5. William Halverson: Cabang filsafat (axciology)yang bertalian dengan sifat dasa dari nilai-nilai non-moral khususnya keindahan dan nilai-nilai lainya apapun yang mempunyai sangkutan istimewa dengan seni.
  6. Van meter Ames (Collier's Encyclopedia) Penelaahan tentang apa yang tersangkut dalam penciptaan, penghargaan dan kritik seni, dalam ubungan seni dengan peranan yang berubah dari sei dalam suatu dunia pancaroba.
  7. Gerome Stolnitz (The Encyclopedia of Phylosophy): Estetika dilukiskan sebagai penelaahan filsafati tentang keindahan dan kejelekan. Keindahan mempunyai nilai estetis yang bersifat positif, sedangkan kejelekan mempunyai nilai estetis yang bersifat negatif. Hal yang jelek bukan berarti tidak adanya unsur keindahan.
  8. The american Society for aestheties: Semua penelaahan menenai seni dan bermacam-macam pengalaman yang berhubungan dengan itu dari suatu sudut pandang filsafati, ilmiah dan teoritis lainnya, termasuk dari psikologi, sosiologi, anthropology, sejarah kebudayaan kritik seni dan pendidikan (The Liang Gie,1976,16-31).
Ruang Lingkup Filsafat keindahan dan Estetika meliputi:
  1. Persoalan tentang nilai estetis (estheic value)
  2. Pengalaman estetis ( esthetic experience)
  3. seni (art)
  4. seniman
Hal ini dipelajari secara historis, ilmiah, teoritis, informatif dan filosofis. Secara historis artinya estetika dipelajari dari segi sejarahnya dan diharapkan dapat memberikan informasi dan manfaat bagi keidupan manusia. Secara ilmiah artinya estetika dipelajari diuji dan dikaji seperti halnya ilmu pengetahuan. Secara teoritis artinya dengan menggunakan teori-teori atau dalil-dalil serta  pendapat-pendapat dari para filsuf atau ilmuwan di dalam pembahasan estetika secara empiris dan ilmiah. Pendekatan studi secara informatif yaitu dengan mendapatkan masukan atau informasi mengenai sesuatu hal ,baik lewat media massa, ilmu pengetahuan, empiri maupun pendapat  masyarakat. Pendekatan studi filosofis diharapkan mampu mencari dan menemukan esensi atau substansi dari keindahan itu.

Persoalan tentang Nilai Estetis (nilai keindahan)

Dalam rangka teori umum tentang nilai, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomis dan nilai-nilai yang lain. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetis.

Mengenai nilai, ada pendapat yang membedakan antara nilai subjektif dan nilai objektif. Pembedaan lainnya ialah antara nilai perseorangan dan nilai kemasyarakat. Dilihat dari segi  ragamnya nilai dibedakan menjadi nilai intrinsik, nilai instrumental,  nilai inheren dan nilai kontributif.

Nilai estetis sebagai salah satu jenis nilai manusiawi (nilai religius,etis dan intelektual) menurut The Liang Gie, tersusun dari sejumlah nilai yang dalam estetika dikenal dengan kategori-kategori nilai estetis atau kategori-kategori nilai keindahan.Pada umumnya filsuf membedakan adanya tiga pasang yaitu:
  1. kategori-kategori yang agung dan yang elok
  2. kategori-kategori yang indah dan yang jelek
  3. kategorI-kategori yang komis dan yang tragis
Akhirnya Kaplan menambahkan kecabulan (obscennity) sebagai kategori nilai estetis (The Liang Gie, 1978 : 169). Kecabulan (obscennity) lebih condong pada pendekatan secara etik atau moral. Dalam bidang seni dan keindahan, lebih tepat dengan istilah erotis.