mbah dinan

Diposkan oleh with 11 comments

ketika seorang seniman bersetubuh dengan kreatifitas, ada beberapa hal yang perlu dikaji ulang, yaitu kepada siapa karya itu akan diapresiasikan dan siapa yang bertanggung jawab memberi apresiasi, menjelaskan makna dan nilai-nilai penting dalam kesenian tersebut? Yang lebih penting lagi, apakah sebuah seni perlu membeberkan sebuah makna dan bagaiman cara membacanya? Sebuah ruang ide yang menyiratkan banyak dilema.

Berkesenian merupakan abstraksi dari ide dan olah kreatifitas seorang yang bernama seniman. Disamping itu berkesenian merupakan bagian dari pencerahan pengalaman batin menyangkut kehidupan. Suatu tindakan yang cukup arif bila seniman menuangkannya dalam sebuah karya. Namun pada sisi lain kita harus mengakui bahwa karya seni merupakan wadah penyampaian makna atau ide kepada penonton. Sungguh fenomena yang dapat menjebak mati dalam berkarya, lebih parah lagi karya hanya penggambaran kerontangnya makna. Tanpa bisa berkata, bisu terbaca angin berlalu.

Kompleksitas kehidupan menjadi sebuah penjabaran zaman dalam menyapih perjalanan anak manusia di muka bumi. Begitu pula dengan karya seni, muatan-muatan nilai estetis dan simbol-simbol bunyi yang terkadang dikaitkan dengan ide merupakan jalinan kemajemukan, sekaligus rumit untuk ditelaah. belum lagi ketika kita membicarakan makna katika dibaca masyarakat, sebab yang menggantung seniman adanya kenyataan kompleksitas nilai dan ide yang ingin disampaikan. Sedang ide adalah geliat pengalaman hidup seniman.

ngaranto niti abut karya mbah dinan 2014

Pada sisi lain mengemas ide hingga menjadi karya merupakan hal yang cukup berat. Terkadang setelah karya itu jadi kita harus berdamai dengan keterbatasan skill, peralatan, bahkan bisa jadi keterbatsan biaya yang membuat kita harus mengalah dan mengadakan peromabakan karya. Inilah yang membuat seniman terkadang tidak dapat mengekspresikan kreatifitas secara penuh. problematika inilah yang terjadi pada proses berkesenian di Kalimantan Barat. Bukan untuk menafikan eksistensi seorang seniman atau mengeluh karena keterbatasan tadi, namun yang perlu dicermati adalah prinsip kita terhadap kemajemukan seni yang berlapis. Seperti yang diutarakan Rihat Natsir Silalahi, mantan kepala Kebudayaan dan Pariwisata kepada Mbah Dinan untuk membuat suatu musik gabungan dari seluruh musik yang ada di Kalimantan Barat sehingga musik tersebut mampu mencirikan sekaligus mewakili musik Kalbar. Hal ini sama beratnya ketika Jacob Sumardjo (Jacob Sumardjo, 2000) memetakan hubungan budaya (seni) dan masyarakat. Menurutnya masyarakat Indonesia sekarang ini bergerak dari kebudayaan daerah atau kesukuan menuju kebudayaan nasional, padahal kebudayaan nasional tengah membentuk dirinya sendiri.

berkaca pada pendapat Jacob Sumardjo terhadap pandangan seniman kalbar juga demikian. Tanpa sadar kita menganggap segala sesuatu berakar pada tradisi sampai untuk membentuk kebudayaan kalbar. Padahal musik tradisi telah membentuk identitasnya masing-masing dan telah kaya dengan sentuhan-sentuhan budaya masyarakat pemiliknya. keadaan ini terjadi pula pada peletakan ide dalam karya. sebuah karya seni merupakan gabungan pola pembentuknya untuk dapat menggambarkan ide. selain itu bunyi teramat absurd untuk dapat ditafsirkan sebagai ide. dua masalah ini menjadi muka berbeda yang menurut seniman harus arif dalam menafsirkannya, sekaligus meletakkannya sebagai bobot karya seni.

Sebenarnya bunyi dapat dianggap sebagai wadah penggambaran suatu ide atau cerita yang akan disampaikan. Keseluruhan rangkaian bunyi sah-sah saja diartikan sebagai cerita. sedang makna adalah muatan dalam ide cerita tersebut. Melali pemilihan ini seniman dapat berlega hati dan melonggarkan ruang pilih dalam mengaplikasi kemampuannya. Bunyi diartikan sebagai kota penggambaran dari cerita yang ingin disampaikan. Tanpa sadar desain dramatis dalam seni telah terbangun. Selanjutnya tinggal mengatur flot dan penyesuaian rangkaian motif (dalam penggalan karya) menjadi kesatuan utuh dan mempunyai konektifitas dengan tema.

Langkah selanjutnya adalah tugas dari audiens untuk membaca makna dari suguhan karya. namun yang harus diingat bahwa seorang seniman juga harus mampu mengungkap arti penting dari apa yang disampaikan. Kedalaman penangkapan inilah yang berbeda, tergantung banyaknya pengalaman dan kontemplasi seorang seniman terhadap masalah yang ia angkat dalam sebuah karya seni. Harus pula diakui, bahwa kedalaman penglaman tidak mempengaruhi kualitas karya,karna ini tergantung pada seberapa dalam pengetahuan musik dan komposisi yang ia kuasai. Dari sini tanpa disadari akan hadir sifat kerendahan menghormati semua karya, karena tidak adanya ke-aku-an dalam berkarya. Karya akan hidup dengan ruh dan nafasnya sendiri, sedang seniman tidak tersesat di ladang kreatifitasnya.

Pandangan lain yang menyebabkan seorang seniman terjepit kaku diantara karya dan makna adalah hanya menitik beratkan penilaian pada aspek estetis. Bila hal demikian menjadi pilihan, seniman hanya berkarya sebatas merangkai pola bunyi sehingga menjadi bentuk keindahan. hal yang dilupakan untuk diperhatikan adalah fungsi dari jalinan-jalinan motif tadi. bayangkan jika membuat rumah dengan sepuluh ruang namun yang berfungsi hanya 6 ruang. Ruang lain yang tidak berfungsi cenderung mengganggu, baik dari segi keindahan dan efektifitas.Terkadang ada karya sederhana namun enak untuk dinikmati dan ditelaah maknanya. Bila ada karya atau repertoar besar, terkadang itu bukan karyanya yang besar, namun hanya melibatkan alat musik atau pemain dalam jumlah besar. Karya tersebut belum tentu mempunyai jalinan yang berfungsi dan saling mendukung. Kesatuan yang saling mendukung, bergayut, dan saling mengangkat fungsi inilah yang disebut UNITY atau kesatuan. Kira-kira di sinilah letak salah satu kekuatan karya seni. disamping itu akan menghadirkan kekuatan yang menopang penggambaran makna yang ingin disampaikan.

Sudah saatnya seniman melepaskan keakuan dalam berkarya dan menyingkirkan anggapan bahwa makna yang gambarkan oleh karya. karya manggambarkan sebuah cerita tentang hidup dan di dalamnya terdapat makna dari cerita yang disampaikan melalui karya seni. sudah saatnya pula untuk lebih memperhatikan jalinan fungsi dalam bagian-bagian karya (motif) atau bahkan fungsi karya itu sendiri dalam masyarakat, agar nantinya dapat mendukung kekuatan karya dan pemaknaannya.inilah yang dinamakan konseptualitas dalam karya seni. Sekali lagi bukan mau menapikan karya seni itu sendiri, namun karya juga mempunyai ruh yang ditiupkan oleh senimannya. Ingat itu sebagai kekuatan karya seni.

Diposkan oleh with 2 comments

Susah mengartikan sebuah kata kreatifitas, walau nyata idiom pengertian namun kabur dalam prakteknya. siapa yang mesti disalahkan. Apakah kesalahan penafsiran atau kurangnya kesadaran dalam menerapkan sebuah proses kreatif dalam berkesenian. Mungkin juga keterbatasan logika untuk menampung pengertian global atau kita yang tidak menangkap dengan jelas apa yang dimaksud dengan kebebasan dalam kreatifitas. Sungguh problematika yang panjang dan melelahkan untuk dicerna menurut pemikiran umum.

Tulisan ini bermula dari beberapa perdebatan kawan-kawan tari dan saya sebagai orang musik dalam lingkup tradisi. Adanya pandangan bahwa kebanyakan gerakan dalam tari dan musik yang masih ke-jawa-an, artinya beberapa pola gerak dan irama musik di Kalimantan Barat terasa sangat kental nuansa Jawa-nya. Mungkin ini adalah kebebasan dalam kreatifitas dalam artian bebas memasukkan unsur gerak dan irama dalam karya apa saja. Alasannya agar tidak menghambat kreatifitas dan pengayaan nilai dalam karya itu sendiri.

Beberapa kawan berpendapat dengan memasukkan unsur budaya lain kedalam sebuah karya merupakan sebuah pengayaan dan perluasan wahana pengembangan, baik secara keilmuan dan nilai estetis dalam karya itu sendiri. Saya pribadi sangat setuju dengan hal ini. Namun tidak semua pengayaan melepaskan nilai budaya yang sudah ada dalam kesenian yang akan kita angkat, baik itu dalam bentuk kreasi, kontemporer, maupun modern art.

kebun kopi percussion 2009

Mengartikan sebuah kebebasan dalam kreatifitas bukan harus meninggalkan bentuk yang sudah ada, sehingga adanya kecenderungan penggabungan dengan unsur budaya lain (akulturasi), namun lebih banyak menimbulkan unsur budaya daerah lain di dalam karya yang kita ciptakan. Hal ini karena adanya anggapan bahwa daerah yang budayanya maju patut dicontoh. Memang kemajuan budaya lain patut  dicontoh dengan saringan dan menerapkannya dengan penyesuaian terhadap budaya setempat. Bukan mencontoh keseluruhan sampai-sampai kepada pola gerak tari dan irama musik. Mungkin ini dianggap style seorang seniman akan mengarah pada suatu budaya dimana ia belajar atau berproses kesenian. Saya masih ingat apa yang dikatakan Wayan Senen seorang dosen Etnomusikologi ISI Yogyakarta, bahwa mencontoh budaya adalah mencontoh perilaku individu dan sosial dalam mentransformasi budaya yang mereka terima, termasuk juga perlakuan mereka terhadap budaya baru tersebut ke dalam budaya yang mereka miliki. Dari sini dapat kita lihat bahwa mencontoh suatu referensi budaya bukan memasukkan unsur tabuhan secara membabi buta namun mencontoh proses dan apresiasi mereka terhadap apa yang dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan mereka. Hal ini adanya kesesuaian antara yang diterima dan pengembangannya dalam lingkup budaya setempat sebagai wadah dan acuan untuk mengembangkan kreatifitas.

tari rinyuakng karya gabriel armando 2011

Memasukkan unsur budaya lain itu sah-sah saja, namun bila sampai tingkatan memasukkan secara berlebihan (mengadopsi) akan menyebabkan kaburnya nilai budaya yang telah terkandung dalam kesenian itu sendiri. Hal inilah yang perlu diperhatikan seniman dalam berposes kreatif untuk menciptakan sebuah karya. Menganggap sebuah pengayaan khasanah karya itu sendiri bukan harus memasukkan pola gerak dan style dari referensi suatu kelompok atau budaya lain. Saya yakin masih banyak peluang perkembangan yang dapat kita aplikasikan untuk pengembangan kesenian yang kita miliki, termasuk dari pola gerak tari dan irama musik. disamping itu sebuah referensi bukan harus kita telan mentah-mentah untuk diaplikasikan dalam budaya kita, karna sudah pasti hasilnya ketidak-cocokan atau pasti menghilangkan ciri khas budaya yang kita miliki. Sebagian pekerja seni bertanya kenapa budaya luar yang lebih maju seperti Jogja dan Bali begitu cepat menerima budaya luar yang up to date dan menyesuaikannya dengan budaya mereka?. Sebenarnya jawabannya ada dalam pertanyaan itu sendiri. Mereka mengadakan penyesuaian bukan mencontoh sehingga nilai-nilai budaya dan ciri khas kesenian mereka tidak hilang. Bila kita hanya mencontoh niscaya kita akan kehilangan jejak dengan karya kita sendiri. Sesuatu hal yang dilematis dan menyedihkan bagi perkembangan kesenian kita masing-masing.
Bedakan antara mengadopsi dengan menjadikan referensi.
Solusi untuk permasalahan seperti ini adalah pengakjian karakter, baik dalam tari dan musik perlu diperdalam. Dari pengkajian tersebut kita akan memahami pola masing-masing kesenian tiap budaya, sehingga kita dapat memahami bagaimana pengaplikasian terhadap karya dan penyesuaian terhadap budaya yang kita miliki. Tidak akan sama pola permainan Gamelan Yogya dan Solo walau ada beberapa kemiripan dalam pola tabuhan. begitu juga dengan pola kesenian yang berkembang di daerah kita masing tentu akan berbeda dengan pola kesenian di tempat lainnya. hal ini karena masing-masing meiliki pola permainan dan latar belakang budaya yang berbeda sesuai budaya yang melingkupi kesenian tersebut. Melalui ini kita menyadari bahwa pendekatan karakter itu sangat penting dalam mempertahankan ciri khas kesenian masing-masing, karena masing-masing kesenian telah kaya dengan nilai-nilai estetis sesuai dengan budaya dimana ia lahir dan berkembang. Sekali lagi saya tidak mengatakan tidak setuju dengan kebebasan kreatifitas, namun perlu kita cerna ulang dengan pendangan budaya bahwa kreatifitas yang didalamnya terdapat kebebasan bukan menjadi sebuah produk kebablasan. Dari sini jelas bahwa dalam kreatifitas ada kebebasan, bukan kebablasan.
Coba renungkan kembali antara kebebasan dengan kebablasan dalam kreatifitas
Catatan: Artikel ini pernah saya posting pada blog borneo music forum. Namun saya rasa artikel ini perlu saya posting kembali untuk direnungi kawan-kawan yang bergerak dibidang kesenian, terutama seni pertunjukan. Hal ini karena pentingnya untuk mengerti akan kata kreatifitas, supaya kita semua tidak salah mengartikan dan menafsirkan kata kebebasan dalam kreatifitas berkesenian.

Diposkan oleh with 3 comments

Musik Dayak merupakan bagian penting sebuah upacara. Ia tidak hanya mempunyai peranan dalam kehidupan, tetapi mengandung nilai-nilai religius masyarakat sesuai dengan adat dan kepercayaan yang dianut masyarakat Dayak. Arti penting musik Dayak bukan hanya terbatas pada pemenuhan kepuasan estetis (hiburan) dan penggambaran budaya, namun dipercaya mempunyai fungsi, simbol, dan nilai budaya sesuai dengan posisinya sebagai wadah kreativitas dan intelektualitas masyarakat pemiliknya. Hal ini karena musik mencakup pengertian proses pengintegrasian unsur-unsur tradisional (Umar Kayam, 1981: 58). Artinya unsur-unsur tradisi dalam kehidupan masyarakat Dayak digambarkan dalam musik yang mereka miliki dan dianggap mengandung simbol tertentu sebagai refleksi kehidupan yang mereka jalani. Ia merupakan pengungkapan nilai estetis dan ekspresi emosional sesuai dengan lingkup budayanya.

Musik Dayak merupakan salah satu unsur budaya yang lahir dari proses intelektualitas dan dimaknai bersama oleh masyarakat pemiliknya. Ia merupakan produk budaya yang lahir dari kebersamaan sosial yang bersifat kolektif. Ia juga merupakan wadah kreativitas masyarakat dengan berpatokan pada nilai-nilai estetis yang di dalamnya terdapat sistem pemaknaan bersama. Hal ini karena musik Dayak merupakan hasil dari proses sosial dan bukan proses perorangan. Artinya walau musik tersebut diciptakan oleh satu orang, namun dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat tingkah laku masyarakat secara kolektif, maka secara otomatis musik Dayak akan mengalami pemaknaan secara kolektif pula, sesuai dengan sifat masyarakat pendukungnya.

Kedekatan musik Dayak dengan kehidupan masyarakat dapat dikatakan musik mempengaruhi seseorang untuk menginterpretasikan sesuatu yang dirasakan dan diyakini, atau sebagai wadah apresiatif yang berhubungan dengan kehidupan. Ia merupakan pengungkapan simbol, nilai, dan fungsi, sehingga ketiga unsur tersebut dapat menunjang keberadaan musik dan memberikan makna khusus bagi kehidupan masyarakat. Musik Dayak dipandang erat kaitannya dengan konteks aktivitas budaya yang dilaksanakan (Krismus Purba, 2002: 201). Ia merupakan realisasi sebuah konsep perilaku dan pemikiran masyarakat sesuai dengan adat dan tradisi yang berlaku, sehingga segala yang terkandung di dalamnya  merupakan transpormasi nilai kehidupan masyarakat pemiliknya.

masyarakat dayak dan musik

Musik Dayak dibagi menjadi dua bagian, yaitu musik yang berhubungan dengan keduniawian atau musik profan, seperti Jonggan, dan musik yang berhubungan dengan kepercayaan atau agama yang sering disebut dengan musik ritual. Contohnya dapat dilihat pada irama musik Dayak Kanayatn yang kebanyakan digunakan dalam sarana ritual.

Kita sering mendengar pengertian irama dalam musik masyarakat Dayak. Pengertian irama bukan seperti pengertiannya dalam musik barat, yaitu sebagai alunan nada-nada yang membentuk satu bagian utuh atau lebih dari sebuah musik. Pengertian irama bagi masyarakat Dayak sama dengan motif tabuhan yang dimainkan oleh instrumen Dau atau Kenong, karena perbedaan irama satu dengan lainnya terletak dari tabuhan Dau tersebut. Disamping itu masyarakat Dayak tidak mempunyai penamaan khusus mengenai irama atau motif tabuhan, diperkirakan mereka mengambil istilah atau penyebutan dalam lagu, dimana pengertian irama sama dengan lagu. Pengertian lagu di sini bukan seperti pengertian bentuk nyanyian utuh, melainkan motif tabuhan. Misalnya pada saat mereka hendak memainkan irama Jubata, maka mereka sering menyebutnya dengan lagu Jubata. Dari sini dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan irama sama dengan lagu atau motif tabuhan Dau menurut masyarakat Dayak Kanayatn.

Kebanyakan panjang motif musik Dayak terdiri dari satu birama, namun ada pula yang mengisi penuh dua atau beberapa ruang birama. Disamping itu antara motif satu dengan motif lainnya terdapat banyak kesamaan, terutama motif-motif tabuhan dalam satu rumpun. Hal ini disebabkan adanya variasi pola tabuhan, seperti pembalikan, penyempitan, serta pelebaran pola ritme dan pola melodi. Sebagai contoh pada irama musik Dayak Kanayatn motif Jubata Babulakng dan Jubata Pulakng yang mempunyai kesamaan pola ritme tabuhan Dau Naknya.

Demikianlah penjelasan pandangan masyarakat Dayak terhadap musik tradisional yang mereka miliki. Bila ada kekurangan saya harap pembaca mau memberikan masukan untuk perkembangan musik Dayak dan sebagai pembelajaran penulis dalam membahas masalah musik Dayak ke depannya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, amin.